Market Watch

Economic Calendar

Selasa, 21 April 2009

Korsel belanja surat berharga AS

SEOUL: Korea Selatan akan mengikuti langkah China dan Jepang membeli surat berharga Pemerintah Amerika Serikat, menyusul kenaikan cadangan devisa negara itu.

Bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea) memproyeksikan surplus neraca perdagangan mencapai US$18 miliar pada tahun ini, sehingga dana itu perlu diinvestasikan. Selama 2008 neraca perdagangan Korsel defisit US$6,4 miliar.

Current account adalah ukuran perdagangan barang dan jasa internasional. Dana yang masuk ke negara yang mengalami surplus neraca perdagangan lebih besar dibandingkan dengan dana keluar.

"Bank of Korea akan mengelola lebih banyak dolar AS. Salah satu pilihan terbaik adalah menginvestasikan dana itu di surat berharga pemerintah," ujar Sungjin Park, yang membantu mengelola US$46,6 miliar sebagai head of fixed income Samsung Investment Trust Management.

Seperti China, pembelian yang dilakukan warga Korea akan membantu pemerintah mengelola surat berharga AS. China merupakan pemegang surat berharga AS terbesar di luar investor dalam negeri.

Presiden AS Barack Obama berupaya menarik investor asing membeli pinjaman yang dijual pemerintah pada jumlah tertinggi sepanjang sejarah untuk mengatasi resesi terpanjang sejak 1930.

Aset cadangan mata uang internasional Korsel naik 2,4% selama Maret 2009 menjadi US$206,3 miliar, kenaikan terbesar sejak April 2006. Angka itu merupakan kenaikan cadangan devisa di atas 1% pertama sejak 17 bulan terakhir.

Data terakhir Depkeu AS menunjukkan investor Korsel menaikkan kepemilikan atas pinjaman AS sebesar 6,4% selama Februari 2009 menjadi US$33,3 miliar, kenaikan pertama sejak Agustus 2008. Adapun kepemilikan China atas surat berharga AS naik ke rekor tertinggi menjadi US$744,2 miliar.

Chang-Ho Yoo, yang bertugas mengelola investasi surat berharga AS menolak memberikan komentar mengenai rencana ini.

Cadangan mata uang asing Korea Selatan turun ke posisi terendah sejak hampir 4 tahun selama November 2009, setelah pembuat kebijakan memompakan dana ke sistem perbankan.

Langkah itu dilakukan karena nilai mata uang lokal turun dan kredit global bermasalah, sehingga perusahaan kesulitan membiayai pinjaman di luar negeri.

Data Bloomberg menyebutkan nilai won Korea turun 26% selama tahun lalu, dan kerugian yang ditimbulkan akibat depresiasi mata uang itu terbesar di antara 11 mata uang di Asia. (esu)

0 komentar: