Market Watch

Economic Calendar

Kamis, 23 April 2009

'Transaksi komoditas minimal 5%'
Denda dan sanksi disiapkan untuk pialang bandel



JAKARTA: Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) akhirnya menyetujui kenaikan persentase kewajiban mentransaksikan produk multilateral di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) hanya sekitar 5% dan dilakukan secara bertahap.

Transaksi di luar bursa (over-the-counter/OTC) yang mencakup sistem perdagangan alternatif (SPA) dan penyaluran amanat luar negeri (PALN) diperkenalkan BBJ sejak 2002. Pada tahun perdananya, OTC langsung merebut perhatian investor.

Volume transaksi SPA dan PALN, berdasarkan data BBJ, pada tahun pertama mencapai 57.238 lot dan membengkak menjadi sekitar 5,56 juta lot pada tahun lalu.

Transaksi multilateral, mulai hadir sejak 2001, hanya mencapai 53.788 lot pada 2008 atau kurang dari 1% volume perdagangan OTC pada tahun lalu.

Minat investor yang sangat rendah terhadap kontrak komoditas mendorong BBJ dan Bappebti untuk menerbitkan ketentuan minimal perdagangan multilateral, instrumen yang dianggap mencerminkan komoditas dari dalam negeri.

Kepala Bappebti Deddy Saleh mengatakan kenaikan persentase kewajiban memperdagangkan produk komoditas yang lebih dikenal sebagai kontrak multilateral diputuskan tidak terlalu optimistis.

Persentase kewajiban yang ditetapkan Bappebti hanya sekitar 5% jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembahasan awal yang sempat mengusung angka 20%.

"[Persentase kewajiban] ini mengakomodasi kesulitan yang dihadapi para pialang," kata Deddy kepada Bisnis, Selasa.

Namun, Kepala Bappebti itu menambahkan persentase kewajiban memperdagangkan multilateral itu akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan perekonomian dan pelaku pasar komoditas berjangka.

Kebijakan tersebut, kata Deddy, akan dikukuhkan melalui surat keputusan yang diagendakan terbit paling tidak akhir bulan ini.

Beberapa waktu lalu, Dirut PT BBJ Hasan Zein Mahmud mengungkapkan perusahaannya sebenarnya sudah memutuskan persentase tersebut. Namun, keputusan tersebut harus menunggu restu dari Bappebti.

Rata-rata volume transaksi multilateral, berdasarkan data BBJ, hanya sekitar 2% dari total perdagangan produk SPA dan PALN. Volume perdagangan multilateral bahkan terus melemah dan hanya mencapai 646 lot pada Maret lebih rendah dari posisi bulan sebelumnya yang mencapai 720 lot.

Sampai dengan tahun ini, BBJ baru memiliki lima jenis kontrak multilateral terdiri dari olein, kontrak indeks emas (KIE), emas, kontrak gulir emas (KGE), dan kontrak gulir emas dalam dolar AS (KGE-USD).

Pada bulan lalu, transaksi KIE memuncaki kontrak multilateral dengan jumlah 312 lot, disusul kontrak emas 249 lot, KGE-USD sebanyak 81 lot, dan kontrak olein 4 lot, sedangkan KGE tidak satu lot pun diperdagangkan.

Pialang bandel

Kepala Bappebti itu melanjutkan persentase kewajiban memperdagangkan kontrak multilateral itu juga diikat dengan sanksi mulai dari denda sampai dengan pembekuan keanggotaan pialang.

"Sanksi yang terberat adalah jika pialang itu terus-menerus melanggar mungkin akan kami bekukan keanggotaannya. Jika tidak ada perbaikan, bukan tidak mungkin kami cabut keanggotaannya," katanya.

Meski demikian, Deddy mengatakan sebagian besar sanksi yang disiapkan bagi pialang yang melanggar batas minimal perdagangan komoditas hanya sebatas pengenaan denda. (nana.oktavia@ bisnis.co.id)

0 komentar: